YA… AMPUN….

Standard

Beberapa hari yang lewat sewaktu keluar dari toko buku dan berencana mengambil tas dan jaket yang tadi nya di titipkan di penitipan tas dan jaket di sebuah toko buku yang ada di Kota pekanbaru.
Sambil menunggu tas saya diambilkan oleh karyawati yang ada di toko tersebut, mata saya tertuju ke ID card yg di pakai oleh si karyawati…
Setengah ga percaya.. saya pastikan lagi, sedetik kemudian langsung meluncur pertanyaan yag entah dari mana datang nya… dan ini beberapa percakapan kami yang tidak semua nya terekam dengan baik..

saya : ” dek… itu foto kamu yg ada di Id?”
karyawati : ” iya.. pak..”
saya : ” oh.. kenapa jilbab nya ga dipakai?”
karyawati : ” pegawai di sini ga’ boleh pake jilbab pak..”

Ya ampun…
sudah sampai sebegitu parahkah untuk mencari pekerjaan di negara kita yang tercinta ini……….?????
sampai – sampai seorang muslimah rela melepaskan jilbab nya demi bekerja di toko tersebut….?????

(Dalam waktu dekat, mudah -mudahan saya bisa melengkapi cerita diatas dengan foto, untuk kelengkapan cerita saya.. )

Apa iya…
sudah sampai sebegitu parah untuk mencari pekerjaan di negara kita yang tercinta ini…..??????

Dibawah ini ada beberapa link yang bercerita tentang “jilbab dan pekerjaan

4 thoughts on “YA… AMPUN….

  1. ayi

    Kaka,,, kita semua tahu, hidup adalah pilihan, hanya kelahiran yg tidak bisa kita memilihnya, kita terlahir dari ibu dan ayah siapa, profesinya apa, pendidikannya seperti apa, Tuhan tidak memberikan kita kesempatan memilihnya, tapi Tuhan beri kita kesempatan untuk memilih jalan mana yang akan kita ambil dalam menjalani fase-fase kehidupan kita didunia (sebuah kehidupan sementara), rejeki-Nya seluas kasih sayang-Nya, tak pernah kita dibiarkan tanpa rejeki sedetikpun, dan juga tak sekejap kita dilepaskan tanpa ujian dari-Nya, memilih pekerjaan adalah ujian kesabaran, ujian sejauh mana kita mampu berikhtiar dan tidak menyerah pada keadaan. memang tidak bisa kita pungkiri betapa kehidupan dinegeri kita ini sangat-sangat kita sayangkan, orang bilang negeri kita negeri yang kaya, negeri yang seharusnya mampu menjamin penduduknya untuk dapat hidup sejahtera, tapi kita juga tahu tentang sebuah alasan klise mengapa negeri kita tak mampu menjadikan penduduknya hidup layak. (tak harus saya uraikan disini, karena kita semua tahu). kembali tentang pilihan hidup, seorang guru pernah berkata pada saya “sandaranmu hanya Allah, Tuhanmu, pembimbingmu, pemberimu rejeki, pemberimu kehidupan”, ketika kita mengatakan ini jalan rejeki-ku, sementara kita merasa yakin bahwa itu bukan hal yang baik dan Dia pasti tidak ridho akan hal itu, maka sebenarnya saat itu juga kita tengah mengabaikan-Nya dan bukan mensyukuri karunia-Nya. afwan,,, hanya sebuah pemikiran seseorang yang minim ilmu. SALAM

  2. jilbaber

    ass…m0 comment neyh, eEmm…aneh jg ya org zaman skrg,rela ngorbanin hrga dri hnya demi sbuah pkkrjaan..pdhal smuanya udh di atur sm ALLAH n klo qt taat sm prntah dan lrangan Nya insyaALLAH qt akan dpt kberkahan dr Nya,ga perlu sperti itu!! krn ga smua org dpt ptunjuk n hdayah dr Nya.. hal sperti tu cm nmbah dosa ja, qt kn ga prnah tw kpn qt prgi mn9hdap Nya.. sbgai umat Islam qt hrz mnjaga agama ini sbaik2nya jgn biarkan Islam di injak2 oleh org lain,,prcya deh jdoh,maut,n rzeki itu dah di atur sm ALLAH jd ga perlu khwatir..oce?! asal qt ga lupa sm ALLAH maka ALLAH jg ga akan lupa sm qt,hidup itu tmpat’y cobaan jd byk2 lah mengingat ALLAH klo qt ga mw jd org yg merugi.. ALLAHU AKBAR!!! wass….

  3. jilbab dan harga diri?
    ah, jangan terlalu naif lah.. kawan!
    dan dikasus ini, itulah adalah pilihan si pramuniaga.
    kalo dia konsisten, pasti dia tidak mau mengalahkan jilbabnya hanya karena rupiah.

    bagi aku — yg dulu berjilbab selama 12 tahun–
    jilbab adalah bagian dari perjalan hidup. so, saat engkau mengenakannya ikutilah “aturan” yang mengiringinya. dan saat kau “melepasnya” bukan berarti kau menghianatinya. namun hanya masuk ke fase berikutnya.

    dan aku kenapa melepas.. ? aku sebut itu pencerahan bagi diriku.

    ah, indahnya hidup dengan hisup yang ada didalam diri bukan karena penilaian dari luar diri.

  4. ayi

    tak ada yang akan menyalahkan mu ketika kau memilih satu dari dua pilihan tentang hidupmu, karena orang tahu kamu berpikir, kamu menimbang sebelum akhirnya memutuskan mana yang menjadi pilihan hidupmu. tapi aturan tentang hidup kita adalah jelas, dan itu yang seharusnya menjadi acuan bagi kita untuk memutuskan jalan mana yg akan kita tempuh. tidak perlu bangga dan merasa kau sudah memilih jalan terbaik bagi hidupmu ketika kau memilih jalanmu tanpa mengingat aturan yang sudah sangat jelas. seperti seorang pengemudi, dia berhenti dilampu merah, bukan karena seseorang berseragam polisi berada dibawahnya melainkan lampu merah yg hanya sekedar simbol itulah yg membuatnya merasa harus berhenti. agar dia dan orang yg ada disekitarnya selamat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s